Saturday, September 10, 2016

Perumusan Budaya Politik

Setelah dengan rinci kemarin saya memberikan Pengertian Lengkap mengenai Budaya Politik, selanjutnya saya akan lebih rincikan kembali bagaimana Rumusan Budaya Politik. Yang didalamnya terdapat segala penjelasan yang berkenaan dengan Budaya Politik. Berikut paparannya dan semoga bermanfaat:


1.       Pengertian Budaya Politik

Tokoh Politik
Pengertian Budaya Politiknya
Gabriel A. Almond & Sidney Verba
suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada di dalam sistem itu.
Samuel Beer
nilai-nilai keyakinan dan sikap-sikap emosi tentang bagaimana pemerintahan seharusnya dilaksanakan dan tentang apa yang harus dilakukan oleh pemerintah
Larry Diamond
keyakinan, sikap, nilai, ide-ide, sentimen, dan evaluasi suatu masyarakat tentang sistem politik negeri mereka dan peran masing-masing individu-individu dalam sistem itu.
Gabriel A. Almond & G. Bingham Powell Jr.
suatu konsep yang terdiri dari sikap, keyakinan, nilai-nilai, dan ketrampilan yang sedang berlaku bagi seluruh anggota masyarakat, termasuk pola kecenderungan-kecenderungan khusus serta pola-pola kebiasaan yang terdapat pada kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Alan R Ball
suatu susunan yang terdiri dari sikap, kepercayaan, emosi, dan nilai-nilai masyarakat yang berhubungan dengan sistem politik dan isu-isu politik.
Marbun
pandangan politik yang mempengaruhi sikap, orientasi dan pilihan politik seseorang
Mochtar Masoed, Colin Mac Andrews
sikap dan orientasi warga suatu negara terhadap kehidupan pmerintahan negara dan politiknya.
Rusadi Suminta-pura
pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik

Didalam kehidupan berpolitik, pada kenyataannya ada dua tingkatan orientasi politik. Yaitu tingkat individu dan orientasi tingkat masyarakat.
Dalam Orientasi Individu terdapat Sistem Politik yang dapat kita lihat dari 3 komponen utama, yaitu sebagai berikut:

KOMPONEN
PENGERTIAN
Orientasi Kognitif
Suatu orientasi yang meliputi berbagai pengetahuan dan keyakinan tentang sistem politik. Hal ini berkaitan dengan aspek pengetahuan seseorang mengenai jalannya sistem politik.
Orientasi Afektif
Suatu orientasi yang menunjuk kepada aspek perasaan atau ikatan emosional seorang individu terhadap sistem politik.
Orientasi Evaluatif
Suatu orientasi yang berkaitan dengan penilaian moral seseorang terhadap sistem politik, selain itu juga menunjukkan pada komitmen terhadap nilai-nilai dan pertimbangan-pertimbangan politik tentang kinerja sistem politik.

2.       Ciri-Ciri Budaya Politik


BENTUK AKTIVITAS
URAIAN / KETERANGAN
Perilaku Politik
(Political Behavior)
Perilaku politik dapat dinyatakan sebagai keseluruhan tingkah laku aktor politik dan warganegara yang telah saling memiliki hubungan antara pemerintah, dan antara kelompok masyarakat dalam rangka proses pembuatan, pelaksanaan, dan penegakan keputusan politik.
Budaya Politik
(Political Culture)
Budaya politik merupakan suatu sikap orientasi yang khas warganegara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warganegara yang ada di dalam sistem itu.
Kelompok Kepen-tingan
(Interest Group)
Kelompok atau organisasi yang berusaha mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah tanpa berkehendak memperoleh jabatan publik. Kelompok kepentingan tidak berusaha menguasai pengelolaan pemerintahan secara langsung, meskipun mungkin pemimpin-pemimpin atau anggotanya memenangkan kedudukan-kedudukan politik berdasar pemilihan umum.
Kelompok Pene-kan
(Pressure Group)
Kelompok yang dapat mempengaruhi atau bahkan membentuk kebijaksanaan pemerintah. Adapun cara yang dipergunakan dapat melalui persuasi, propaganda, atau cara-cara lain yang dipandang lebih efektif.

3.       Macam-Macam Budaya Politik


BUDAYA POLITIK
KETERANGAN
Budaya politik parokial
(parochial political culture)
Budaya politik ini terbatas pada satu wilayah atau lingkup yang kecil atau sempit, terdapat dalam masyarakat yang tradisional dan sederhana, tidak ada peran politik yang bersifat khas dan berdiri sendiri, masyarakatnya cenderung tidak menaruh minat terhadap obyek-obyek politik yang luas, kecuali dalam batas-batas tertentu diselitar tempat tinggal, disebabkan oleh faktor kognitif (rendahnya tingkat pendidikan)
Ciri-cirinya, antara lain ;
-          apatis,
-          pengetahuannya tentang politik rendah,
-          kesadaran berpolitiknya rendah, serta
-          tidak peduli dan menarik diri dari kehidupan politik.
Budaya politik kaula
(subject political culture)
Budaya politik ini menunjuk pada orang-orang yang secara aktif patuh kepada pejabat-pejabat pemerintahan dan undang-undang, tetapi tidak melibatkan diri dalam politik atapun memberikan suara dalam pemilihan, masyarakatnya sudah mempunyai minat, perhatian, kesadaran, terhadap sistem sebagai keseluruhan, masyarakat yang bersangkutan sudah relatif maju (baik sosial maupun ekonominya), tetapi masih bersifat pasif. Orientasinya mengembangkan pranata-pranata demokrasi lebih bersifat efektif dan normatif daripada kognitif.
Ciri-ciri budaya politik ini antara lain;
-          memiliki pengetahuan politik cukup
-          partisipasi politik minim
-          kesadaran berpolitik rendah.
Budaya politik partisipan (participant political culture)
Budaya politik ini merupakan suatu bentuk budaya politik dimana anggota masyarakat cenderungh diorientasikan secara eksplisit terhadap sistem secara keseluruhan dan terhadap struktur dan poroses politik secara administrasi. Budaya politik ini ditandai adanya kesadaran bahwa dirinya ataupun orang lain sebagai anggota aktif dalam kehidupan politik. Oleh karena itu, warganegaranya tidak hanya diorientasikan terhadap partisipasi aktif dalam, tetapi juga sebagai subyek dimana hukum dan kekuasaaan serta kelompok utama lebih beragam.
Ciri-ciri, antara lain ;
-          pengetahuan politik tinggi
-          kesadaran politik tinggi
-          partisipasi politik aktif,
-          kontrol politik aktif.

Affan Gaffar salah satu Tokoh Politik berpendapat bahwa Budaya Politik dalam Masyarakat Indonesia itu terbagi menjadi tiga bagian. Sebagaimana paparannya dibawah ini:

BUDAYA POLITIK
KETERANGAN
Hierarkhi yang tegas
memilahkan dengan mengambil jarak antara pemegang kekuasaan dengan rakyat sehingga kalangan birokrat sering menampakkan diri dengan self-image yang bersifat benevolent. Seolah-olah mereka sebagai kelompok pemurah, baik hati dan pelindung rakyat, sehingga ada tuntutan rakyat harus patuh, tunduk, dan setia pada penguasa. Perlawanan terhadap penguasa akan menjadi ancaman bagi rakyat. Lebih tragis lagi, suatu upaya untuk melindungi hak mereka sendiri pun diartikan sebagai perlawanan pula.
Budaya politik patronage
sebagai budaya yang paling menonjol di Indonesia. Pola hubungan dalam budaya politik patronage ini bersifat individual, yakni antara si patron dan si client, majikan dan pembantu, atasan dan bawahan. Antara keduanya terjadi interaksi yang bersifat resiprokal atau timbal balik dengan mempertukarkan kekuasaan, kedudukan, jabatan dengan tenaga, dukungan, materi, dan loyalitas. Budaya politik ini menjadi salah satu penyebab maraknya praktik KKN dan ketidakadilan dalam masyarakat.
Budaya neo-patrimonialistik
negara memiliki atribut yang bersifat modern dan rasionalistik, seperti birokrasi di samping juga memperlihatkan atribut yang bersifat patrimonialistik

4.       Faktor Penyebab Berkembangnya Budaya Politik di Daerah

a.   Unsur sub budaya politik yang berbentuk ”budaya politik asal” yaitu budaya politik yang dimiliki seseorang atau suatu masyarakat, atau budaya politik yang telah tumbuh dan berkembang dalam dirinya sesuai dengan latarbelakang lingkungannya (kesetiaan primordial).
b.  Aneka rupa sub budaya politik yang berasal dari luar lingkungan tempat budaya asal itu berada. Dalam interaksi antar budaya politik asal dengan budaya politik dari luar, telah berlangsung suatu proses akulturasi budaya politik yang saling mempengaruhi.
c.   Budaya politik nasional itu sendiri.   Peranan  budaya  politik  nasional  tergantung  pada tahap yang telah ditempuh dalam proses pembentukannya. Pertumbuhan budaya politik nasional memiliki tiga tahap yaitu budaya politik nasional yang sedang dalam proses pembentukannya, telah mengalami proses pematangan, sudah mapan.

5.       Perkembangan Budaya Politik


SIKAP-SIKAP
PENGERTIAN
radikal
sikap seseorang yang menghendaki perubahan terhadap sesuatu yang ada secara cepat. Sikap radikal menghendaki perubahan semua tatanan atau semua aspek kehidupan masyarakat sampai ke akar-akarnya, dan jika perlu dengan kekerasan.
politik status quo
mereka yang berusaha mempertahankan staus quo dan mendukung sistem itu secara utuh, sekaligus pelakunya. Merekalah yang sebenarnya terhanyut dalam kenikmatan penguasaan asas ekonomi, politik, hukum, sosial dan lain sebagainya.
Status quo
suatu sikap dari suatu rezim yang berkuasa apabila terjadi peralihan kekuasaan agar tetap dalam satu rezim itu, dan berusaha tidak ada perubahan dengan maksud agar kesalahan-kesalahan rezim itu dapat terungkap.
Konservatif
sikap yang dipertahankan oleh rezimnya agar kelompok itu tidak terusik dalam kehidupannya dan terhormat dalam masyarakat dan bangsanya, serta seolah-olah semua keberhasilan yang dicapai merupakan perjuangan rezimnya serta tidak ada kekuatan lain yang mampu melaksanakan pemerintahan.
politik moderat
sikap menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem atau berkecenderungan perilaku ke arah dimensi atau tengah jalan. Pandangannya cukup dan mampu mempertimbangkan pandangan pihak lain.

6.       Budaya Politik yang Berkembang di Masyarakat

Apabila pelaksanaan sosialisasi politik dapat dilaksanakan dengan baik melalui berbagai sarana yang ada, maka masyarakat dalam kehidupan politik kenegaraan sebagai satu sistem akan lahir dan berkembang  budaya politiknya secara proporsional, jujur dan adil, serta bertanggung jawab.  Ini berarti, tanggung jawab masyarakat sesuai dengan hak dan kewajibannya, yaitu bagaimana dirinya mampu berperan dan berpartisipasi dalam kehidupan politik kenegaraan atas dasar kesadaran politik yang baik dan tinggi.  Tolok ukur keberhasilan sosialisasi politik terletak pada sejauh mana pendidikan politik yang telah dilakukan, sehingga menghasilkan masyarakat yang mempunyai kesadaran dan budaya politik ”etis’ dan ”normatif’ dalam mewujudkan partisipasi politiknya.

7.       Tipe-Tipe Budaya Politik yang Berkembang di Negara Indonesia


Nazaruddin Sjamsudin menyebutkan bahwa dalam sebuah budaya politik, ciri utama yang menjadi identitas adalah Simbul. Simbul yang kita miliki adalah Bhinneka Tunggal Ika, dalam budaya ini ada dua nilai yaitu toleransi dan tenggang rasa.
Berkaitan dengan budaya politik Indonesia ada beberapa pendapat para ahli antara lain :

TOKOH
BUDAYA POLITIK YANG DOMINAN DI INDONESIA
Herbert Feith
(Australia)
·      aristokrasi Jawa
·      wiraswasta Islam.
Clifford Greertz (Amerika Serikat)
·      santri,
·      abangan
·      priyayi.
Hildred Greertz  (Amerika Serikat)
·      petani pedalaman Jawa dan Bali,
·      masyarakat Islam pantai
·      masyarakat pegunungan


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Buku Sekolah
Buku Sekolah Updated at: 9:38:00 PM
Tags :

Related : Perumusan Budaya Politik

0 komentar:

Post a Comment