Langsung ke konten utama

Sejarah OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah)

Sejarah OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah)  – Organisasi Siswa Intra Sekolah (disingkat dengan OSIS), merupakan suatu organinsasi yang tepatnya berada di tingkat sekolah yang ada di Negara Indonesia yang di mulai dengan tingkat dari Sekolah Menengah Pertama atapun (SMP) sederajat dan Sekolah Menengah Atas (disingkat dengan SMA) sederajat. OSIS ini di urus atupun di dalam nya ada Murid murid ataupun Siswa siswa yang terpilih untuk memegang suatu tanggungjawab dan berdasarkan pemilihan demokrasi semua siswa yang menjadi anggota OSIS, dan yang pastinya organisasi OSIS ini pun mempunyai satu guru pembimbing yang telah di pilih juga oleh pihak sekolah.

Sejarah OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah)

Istilah dari kepengurusan dalam Oraganisasi OSIS ini ada Pengurus OSIS dan juga ada Anggota OSIS, dan yang di sebut dengan anggota OSIS ini merupakan seluruh Siswa dan Siswi yang ada dalam suatu sekolah yang ada tempat OSIS nya itu, dan semua anggota OSIS berhak untuk memilih calon ketua OSIS nya dan juga Pengurus OSISI nya dengan sisitem demokrasi yang di pakainya.

Sejarah adanya OSIS di Sekolah

OSIS yang sudah lazim di sekolah sekarang ini merupakan suatu hasil jeri payah dari pejuangnya sendiri, karena sebelum adanya OSIS ini banyak sekali organisasi yang ada di sekolah tingkat SLTP dan juga SLTA dahulu, sudah beda dari bentuknya, coraknya bahkan juga dari namanya pun sudah beda, ada juga organisasi yang dibentuk oleh organisasi yang ada di luar lingkungan sekolah, ada juga yang di bentuk dari organisasi bersifat intern itu sendiri, karena itu pun menyebabkan banyak sekali hubungan yang tidak baik antara sekolah dan juga pihak luar.

Bahkan saking maraknya organisasi yang ada sebelum adanya OSIS, ada juga organisasi yang mengarah pada hal hal yang bersifat politis dan politik, juga sampai sampai karena pengaruh negatifnya itu membuat kegiatan yang ada si sekolah siswa tersebut segalanya di atur dan juga di kendalikan dari orang ataupun organisasi yang ada di luar sekolah saat itu, kegiatan belajar mengajar pun akhirnya banyak sekali terganggu karena kebanyakan kegiatan di luar sekolah dengan organisasi lain.

Maka, setelah melihat akibat yang timbul karena keberadaan yang seperti itu, maka timbullah suatu loyalitas ganda dimana satu pihak harus melaksanakan dan juga bertanggungjawab atas apa yang di buat oleh Kepala Sekolah, juga di pihak lain harus ada yang tunduk dengan Organisasi Siswa yang berada dan juga yang di kendalikan di luar sekolah.

Memang jika melihat kondisi yang seperti itu sangat dapat di bayangkan berapa banyaknya organisasi siwa yang tumbuh dan juga yang berkembang pada masa itu, dan juga bukanlah merupakan hal yang tidak mungkin jika organisasi siswa tersebut banyak di manfaatkan untuk suatu kepentingan yang menguntungkan bagi organisasi luar dan juga merugikan bagi pihak sekolah.

Akhirnya dengan tegas pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1972, setelah mendapatkan arahan dari PIMPINAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN dan KEBUDAYAAN, akhirnya para pimpinan organisasi siswa tersebut banyak yang sadar akan tujuan dan  juga maksud mereka dattang ke sekolah, dan akan bahayanya perpecahan yang ada antara para siswa intra sekolah dengan sekolah yang ada di luar masing masing.

Akhirnya dengan perkembangan yang sangat pesat, ada suatu pengembangan generasi muda yang banyak diarahkan untuk menjadi generasi penerus yang akan membawa bangsa Indonesia ini ke depan pintu gerbang Negara yang Maju dan juga dalam Pembangunan Nasional dengan di berikan bekal dan juga Keterampilan kepemimpinan, kesegaran jasmani dan rohani, patriotisme, idealism, daya kreasi, budi pekerti luhur dan juga kepribadian.

Dan pada saat itu di bangunlah suatu wadah dengan serentak di masing masing sekolah suatu organisasi yang ada di lingkungan sekolah sendiri lewat Organisasi Siswa Intra Sekolah atau di singkat dengan OSIS, perlu juga di tata dan di arahkan secara teratur dan baik.

Pada saat itu juga akhirnya besar sekali perhatian dan juga usaha yang pemerintah tunjukan dalam membina keperibadian juga kehidupan para siswa, maka dari itu di tetapkanlah OSIS itu sebagai salah satu jalur yang di pakai untuk pembinaan kesiswaan secara nasinal, dan juga jalur tersebut di kenal dengan Empat Jalur Pembinaan Kesiswaan, Yaitu dalam nya sebagai berikut :

1.Organisasi Kesiswaan
2.Latihan Kepemimpinan
3.Kegiatan Ekstrakurikuler
4.Kegiatan wawasan Wiyatamandala

Akhirnya dari sana terbentuklah dan diresmikanlah OSIS dengan dilandasi latar belakang sejarah OSIS yang terjadi OSIS pun di bubuhi dengan tujuan pokok dan juga dasar hokum yang kuat.


Dasar Hukum adanya OSIS

 berikut dibawah ini dasar hokum yang menjadi landasan di adakannya OSIS :

1.Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas
2.Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3.Permendiknas Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
4.Permendiknas Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan
5.Permendiknas Nomor 39 tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan
6.Buku Panduan OSIS terbitan Kemdiknas tahun 2011

Sekian dulu sejarah OSIS dari saya, terimakasih telah menyimak dan semoga bermanfaat, kata kata terakhir di postingan saya kali ini “ Yang jadi OSIS harus terus Semangat ! dan yang belum jadi Pengurus OSIS harus jadi Pengurus OSIS !”.

Postingan populer dari blog ini

Jumlah Pemain Bola Voli Dalam Satu Regu

Jumlah Pemain Bola Voli Dalam Satu Regu - Permainan bola voli adalah olah raga yang sangat digemari oleh kaum laki-laki atau perempuan, dalam permainan ini jumlah pemain nya dibatasi dengan jumlah yang sedikit mengingat lapangan bola voli juga tergolong kecil, berbeda dengan sepak bola yang kita kenal dengan istilah kesebelasan. Jumlah pemain bola voli dalam satu regu maximal ada 6, sedangkan untuk jumlah minumum ada 4 orang.
Baca juga : Ukuran lapangan bola voli standar nasional

Aturan Jumlah Pemain Bola Voli dalam Satu Regu Setiap tim atau regu memiliki jumlah pemain 10 orang, 6 Orang pemain inti dan 4 orang pemain cadanagan. Pada saat pergantian pemain ketika pertandingan berlangsung tidak dibatasi.  Maksimal dalam satu pertandingaan harus ada 6 pemain inti. minimal 4 pemain. Jika kurang dari empat pemain, maka regu bersangkutan dianggap K.O.
Posisi Pemain Saat Pertandingan Bola Voli Posisi pemain ketika pertandingan berlangsung terbagi menjadi 3, diantaranya; 2 Pemain Smasher/spiker…

Tinggi Ring Basket Dari Lantai untuk Putra dan Putri

Tinggi Ring Basket Dari Lantai untuk Putra dan Putri - Ring basket merupakan sesuatu yang termasuk kedalam fasilitas bola basket. Ring basket juga merupakan poin penting dalam permainan bola basket karena ring adalah tempat di mana pemain harus menembak bola ke dalam rangka untuk mengumpulkan poin. Lalu berapakah tinggi ring basket ???
Pada psotingan ini kita akan sama sama mengkaji tinggi ring basket. Ring basket memiliki tinggi yang berbeda. Ketinggian resmi peraturan NBA ring basket adalah 10 kaki dari lantai atau 305cm, dan papan  3,5 kaki vertikal dan 6 kaki horizontal. Hoop berdiameter 18 inci. Ketinggian lingkaran itu adalah standar di semua tingkat bermain.
Baca Juga : Ukuran Lapangan Basket
National Basketball Association memiliki standar yang berbeda untuk hoops basket karena visibilitas dalam permainan dan sifat fisik atlet profesional. Papan pantul basket NBA terbuat dari kaca 1/4-inch-tebal dan 72 inci lebar 42 inci. Konektor terbuat dari  logam, dan lingkaran dan lingkar…

45 Butir-butir Pancasila

45 BUTIR-BUTIR PANCASILA - Sejak tahun 2003, berdasarkan Tap MPR No.I/MPR/2003, 36 butir pedoman pengamalan Pancasila telah diganti menjadi 45 butir butir Pancasila.  Tapi yang sangat disayangkan yaitu tidak adanya kebijakan pemerintah untuk memasukkanya ke dalam kurikulum pendidikan ataupun program doktrinasi lewat media. 
Namun, meski demikian tidak ada salahnya jika kita mengetahui bagaimana cara pengamalan Butir-butir Pancasila tersebut.  Berikut 45 Butir-butir Pancasila beserta contoh sikap yang mencerminkan pengamalannya:

45 BUTIR-BUTIR PANCASILA
A.  Ketuhanan Yang Maha Esa 1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama anatra pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa…